Memahami Takdir Allah

Dipublikasikan oleh admin pada

Ini kisah beberapa tahun silam. Ketika saya sebagai seorang fresh graduate sedang gencar-gencarnya mencari pekerjaan. Oh iya, perkenalkan nama saya Agil, sarjana hukum yang mengenyam pendidikan di salah satu universitas negeri di Makassar. Dan yang akan saya bagikan kali ini adalah kisah tentang perjuangan saya mencari kerja.

Akhir Tahun 2017, pemerintah membuka lowongan Pegawai Negeri Sipil. Jujur saja, ketika itu saya tidak mengetahui apa-apa tentang PNS. Ketidaktahuan itu juga membuat saya tidak mempunyai ketertarikan untuk mendaftar sebagai PNS. Sehingga booming CPNS di sekeliling tidak membuat saya tertarik.

Sampai saya mengetahui, bahwa salah satu lowongan yang dibuka pemerintah ketika itu adalah lowongan hakim. Mahkamah Agung, sebagai instansi bernaungnya jabatan hakim, saat itu sedang mencari calon-calon hakim yang siap memperkuat barisan penegak hukum di Republik ini. Fakta yang baru saya ketahui juga, sebab sebelumnya saya berpikir hakim punya jalur perekrutan mandiri, bukan melalui CPNS.

Jujur saja hakim adalah profesi idaman saya. Dulu ketika teman-teman SMA menanyai cita-cita saya, profesi hakim-lah yang selalu kusebutkan, tidak ada keraguan. Bagi saya, hakim merupakan jabatan yang tidak semua orang bisa tekuni. Ada karisma khusus yang hanya dimiliki oleh seorang hakim. Baju kebesarannya yang demikian gagah dan kewenangannya yang luar biasa, membuat saya sangat mengimpikan untuk menjadi seorang hakim.

Dan momentum itu pun akhirnya terbuka juga.

Saya memutuskan ikut mendaftar. Setidaknya peluang ini harus dikejar. Segera saja segala sesuatu yang dibutuhkan dalam proses pendaftaran CPNS disiapkan. Saya bersyukur bahwa umur yang dipersyaratkan untuk mendaftar hakim sudah bisa saya penuhi, sebab ketika itu banyak teman saya yang tidak masuk kualifikasi. Tertolak ketika masuk sistem pendaftaran.

Alhamdulillah pada prosesnya, saya dinyatakan lulus administrasi. Oh iya, dalam tes CPNS, ada tiga tahapan yang mesti dilalui setiap peserta. Pertama seleksi administrasi, yang mana dalam tes tersebut, panitia melakukan verifikasi atas keabsahan dokumen yang dikumpulkan peserta. Kemudian, apabila peserta dinyatakan layak secara administrasi, dilakukan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) yang akan menguji kemampuan peserta dalam bidang Wawasan Kebangsaan, Intelegensia Umum, dan Kemampuan Pribadi. Kemudian terakhir, jika dinyatakan lulus tes SKD, peserta akan tiba di sesi tes pamungkas yaitu Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) yang akan menguji kompetensi teknis peserta atas jabatan yang dilamarnya.

Ketiga proses seleksi itu jelas memakan waktu yang tidak sebentar. Para peserta yang mengikuti seleksi CPNS betul-betul perlu menyiapkan fisik dan mental yang prima. Sebab, rangkaian seleksi ini panjang dan menguras mental. Kita pun dihadapkan pada fakta bahwa perbandingan antara jabatan yang tersedia dan pelamar yang mendaftar sangat jomplang. Khususnya jabatan hakim. Saat itu hitung-hitungan kasarnya, 1 kursi tersedia diperebutkan oleh 50 orang.

Sangat sengit.

Oleh karena itulah saya mencurahkan fokus penuh. Demi mengasah kemampuan mengerjakan tes SKD, berbagai buku seputar tes CPNS saya beli. Meskipun ketika itu saya tidak mengikuti bimbingan belajar khusus Tes CPNS, saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk latihan belajar soal. Di rumah, di kampus, dan di tempat kumpul sama teman-teman, dunianya berubah menjadi dunia persiapan CPNS. Ikhtiar dan impian kita semua saat itu serupa, menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Dalam proses itu, saya berjuang bersama 3 kawan lain yang juga berikhtiar untuk masuk sebagai PNS. Sekitar satu bulan proses persiapan yang kami jalani ketika itu. Seluruh metode belajar otodidak kami lakukan. Sebisa mungkin setiap ada try out yang diselenggarakan untuk simulasi SKD kami ikuti. Dan dari beberapa simulasi yang diselenggarakan, termasuk oleh Badan Kepegawaian Negara, kami semua mendapatkan nilai yang memuaskan. Kami mulai percaya diri.

Akhirnya jadwal SKD pun tiba. Seluruh ikhtiar yang kami lakukan selama kurang lebih satu bulan, menjadi modal melewati seleksi ini. Maklum, saya itu agak kurang dalam persoalan matematika, jadi kekhawatiran saya terkait tes ini memang di bidang itu. Sehingga dalam masa persiapan tersebut, bidang yang saya fokuskan adalah matematika. Harapannya dalam bidang itu skor saya minimal memenuhi ambang batas yang dipersyaratkan.

Dan ternyata, seleksi berjalan dengan baik. Alhamdulillah kabar baiknya, hasil live score test menayangkan nilai SKD saya sebagai yang tertinggi di sesi tersebut. Sesuatu yang tidak pernah saya sangka. Meskipun lagi-lagi nilai matematika/intelegensia umumnya pas-pasan, tetapi nilai akumulatif saya mendapatkan skor tertinggi. Memang masih harus menunggu hasil resmi dari seluruh Indonesia, tetapi atas hasil itu saja saya sudah sangat gembira.

Kegembiraan berlanjut setelah hasil tes resmi diumumkan. Pada jalur yang saya daftar, yakni jalur cumlaude, saya duduk di peringkat 76 se-nasional. Hasil yang lumayan menurutku, karena berdasarkan ketentuan yang ada, yang bisa mengikuti seleksi berikutnya hanya 3x dari jumlah lowongan tersedia. Artinya untuk jalur cumlaude yang menyediakan 120 lowongan, jumlah peserta yang bisa melanjutkan seleksi berikut adalah 360 orang. Dengan hasil yang ada, saya bisa masuk seleksi berikut dengan posisi yang cukup lumayan.

Sejujurnya saya cukup puas dengan raihan pada SKD. Dengan format penilaian akumulatif antara SKD dan SKB, mereka yang duduk di posisi atas cukup mengatrol posisinya dengan nilai SKB yang standard. Artinya, kalau nilai SKB tidak jeblok, bisa dipastikan mereka yang punya rangking 120 ke atas sudah selangkah lebih dekat untuk dinyatakan lulus seleksi. One step closer to be a Judge.

Namun, Allah ternyata punya skenario berbeda.

Persis beberapa hari setelah pengumuman itu, saya harus diopname. Saya menderita dehidrasi akut dan persoalan pencernaan yang memerlukan tindakan medis. Kondisi yang sangat sulit, karena jarak antara pengumuman dan seleksi berikut tidaklah panjang. Di saat semua teman-teman sedang mempersiapkan diri untuk seleksi berikutnya, saya cuma bisa tergolek lemah di rumah sakit.

Momen itu sangat berat rasanya. Karena saya termasuk tipe orang yang agak perfeksionis, yang tidak pernah cukup percaya diri mengikuti seleksi tanpa persiapan. Saya ingat betul betapa nestapanya, melihat harapan yang sudah di depan mata tak kuasa untuk diperjuangkan. Berlalu sepekan saya diopname dan saya masih belum mampu beranjak untuk belajar.

Ada momen ketika itu, teman-teman seperjuangan datang menengok. Saya melihat bagaimana mereka juga memahami kondisi yang saya rasakan. Mereka tahu betapa nelangsanya saya di hari jadwal seleksi yang sudah semakin mendekat. Namun, mereka terus membesarkan hati saya. Membakar semangat saya untuk tetap fight dalam proses seleksi.

Beberapa hari berselang, akhirnya saya bisa mengikuti SKB sesuai jadwal yang ditentukan. Meskipun dalam kondisi kepayahan akibat pemulihan, saya tetap memaksakan diri mengikuti seleksi. Pikir saya, sudah sejauh ini jalan yang sudah dilalui. Dan biarlah Allah yang menentukan bagaimana hasil akhirnya.

Namun akhirnya saya merasakan dampak dari minimnya persiapan. Saya tidak berkutik di hadapan soal-soal itu. Hampir keseluruhan waktu pengerjaan soal, saya lalui dengan gelengan kepala. Tidak ada bagian soal yang bisa saya kerjakan dengan baik. Terutama karena, hampir sebagian besar soal yang keluar merupakan pengetahuan yang tidak terlalu saya dalami ketika di kampus. Ditambah dengan minimnya persiapan, saya hanya bisa pasrah.

Sepulang dari tes tersebut saya cuma bisa pasrah. Membayangkan betapa kacaunya jawaban dan hasil skor yang kurang memuaskan membuat saya tenggelam dalam pesimisme. Apalagi setelah menyaksikan perolehan skor-skor teman-teman peserta lain. Ada gap yang cukup lumayan.

Sebetulnya saya masih berharap bahwa penjumlahan akumulatif dari seleksi sebelumnya bisa menyelamatkan saya. Dengan harapan itulah, saya menyangga semangat. Artinya meskipun nilai saya drop, dengan asumsi 120 orang yang akan diterima, saya berharap rangking turun tapi tidak melewati angka 120. Semoga.

Hari-hari menuju pengumuman rasanya berjalan begitu lambat. Jujur saja, pikiran saya selalu campur aduk menunggu pengumuman itu. Selalu ada bayangan tentang, ‘bagaimana nanti jika gagal?’ ‘bagaimana nanti perasaan orang tua ketika tahu kamu gagal lolos?’ ‘bagaimana rasanya melihat teman-temanmu lolos, sedang kamu gagal?’ seluruh kekuatiran itu berkecamuk di kepala.

Dengan seluruh kegelisahan itu, harinya pun akhirnya tiba. Tentu saja saya menyambut hari itu dengan kegelisahan yang luar biasa besar. Rasa takut, harap-harap cemas, dan panik mewarnai sebagian besar mental saya. Ini pertama kalinya saya menjajaki dunia kerja dan melihat persaingan yang begitu ketat untuk memperebutkan posisi, saya mengenal rasa takut gagal.

Begitu pengumuman keluar, apa yang saya takutkan terjadi. Nilai saya terlempar jauh. Alih-alih merosot, nilai saya malah terjun bebas. Tadinya ada di posisi 76, setelah seleksi terakhir saya berada di peringkat 130. Keterangan di kolomnya pun sangat jelas. Anda dinyatakan tidak lolos.

Hari itu saya tenggelam dalam kecewa. Tidak tertahankan tangis dan tumpahan emosi. Bayang-bayang kelabu yang memenuhi dada sejak selesainya seleksi, berkeliaran bebas. Saya mulai bergulat dengan keadaan, ‘andai begini….’ ‘seandainya begitu….’. Begini rasanya patah di akhir, saya gagal memenuhi impian untuk menjadi seorang hakim.

Kekecewaan itu ternyata tidak sesaat. Hari-hari berikutnya, ia beranjak dan terus menumbuh dalam jiwa. Beberapa waktu, saya mengasingkan diri dari pergaulan, merasa begitu payah dengan diri sendiri. Saya terus saja menganalisis apa yang keliru, Dan menemukan bahwa kondisi saya sakit persis sebelum ujian, semakin menambah sesak di dada. ‘Seandainya…..’

Dan kondisinya semakin memburuk. Saya mengalami gangguan psikologis. Akibat kepikiran dengan hasil tes dan kegagalan mendapatkan pekerjaan impian. Setelah didiagnosis oleh psikiater, saya dinyatakan terkena anxiety disorder, sebuah penyakit kecemasan berlebihan. Gejalanya begitu menyakitkan. Saya tidak bisa tidur, selalu keringat dingin, dan kadang-kadang disergap rasa ingin mati.

Setelah 6 bulan dan kondisi saya yang semakin drop dari hari ke hari, orang tua berinisiatif membawa saya terapi. Terapinya ternyata diampu oleh seorang ustadz. Pembawaan beliau yang ramah dan selera humor yang tinggi, membuat saya cukup rileks sepanjang terapi. Dan terapi yang dilakukan oleh Sang Ustadz sebetulnya hanya memijit saja.

Sesi terapinya tidak berlangsung lama, tetapi ternyata diskusinya yang jadi panjang. Beliau cukup kaget mendengar cerita tentang kondisi saya. Sebetulnya, dari beberapa pasien yang beliau tangani, ada juga orang-orang yang punya kondisi semacam itu. Hanya saja melihat fisik saya yang masih muda, beliau tidak menyangka gangguan yang saya alami adalah gangguan kecemasan.

“Nak, sumber dari segala gangguan psikis itu sebetulnya cuma satu” seru Sang Ustadz.

Kalimat itu sontak membuat saya tertegun. Ingin mengetahui apa yang dimaksud oleh Ustadz.

“Sumbernya adalah hati yang kering dari mengingat Allah, itu saja” sambil tersenyum Ustadz melanjutkan.

Saya pulang dengan membawa kalimat itu. Rasanya sepotong kalimat itu saja sudah sukses menegur jiwa saya. Setelah kembali memikirkan bahwa betapa selama proses ini berjalan, yang terlalu dominan memang adalah ego saya sendiri. Keinginan menjadi seorang hakim dan seluruh embel-embel yang lain, adalah versi ‘terbaik’ dari asumsi saya sendiri. Saya luput memahami, bahwa Allah pun punya versi terbaik-Nya sendiri, yang berwujud dalam setiap takdir. Dan apa yang ‘terbaik’ versi Allah, belum tentu kita temui dalam kondisi menyenangkan untuk kita. Murni karena keterbatasan ilmu manusia.

Apesnya dalam banyak kondisi, kita kesulitan merespon situasi semacam ini. Saya mengalami betul hal itu. Kekecewaan akibat gagal tes, gagal di step terakhir, dan harus merelakan pekerjaan impian begitu menyesakkan. Saya yakin, kondisi semacam ini pun terjadi kepada setiap orang, dengan format yang berbeda-beda. Dan akibat tidak punya daya jangkau pada esensi takdir, kita seringkali menyakiti diri sendiri.

Andai saja kita mau belajar lebih banyak, mungkin ada sikap yang lebih arif. Dalam Al-Qur’an, Allah juga sudah menegaskan hal ini, di surah al-Baqarah ayat 216:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

Memahami konteks ini membuat perubahan yang sangat berarti bagi saya. Ada sesuatu yang menumbuh dalam jiwa, bahwa fase ini bagian dari apa yang Allah anggap ‘baik’ untuk saya. Saya berusaha mengubah cara pandang, bahwa bagian yang kita mainkan adalah area ikhtiar, lebih dari itu manusia tidak punya kuasa. Berbekal kesadaran itu, Kesehatan saya berangsur-angsur pulih. Berbekal tawakkal pada Allah.

Selebihnya, saya memulai ikhtiar-ikhtiar lain. Dan syukur alhamdulillah bahwa jalur saya memang adalah seorang PNS. Berangkat dari peristiwa sebelumnya, saya lebih rileks mengikuti seleksi-seleksi berikutnya, sehingga saya akhirnya diterima sebagai salah satu PNS di salah satu Kementerian. Dengan jalur persaingan yang jauh lebih ketat, karena hanya membuka lowongan 2 kursi. Lebih bersyukur lagi, dari penerimaan ini saya bertemu dengan jodoh yang Allah takdirkan. Barakallahu…

Semoga kita semua mampu menjadi pembelajar yang hebat atas setiap takdir yang kita miliki. Karena Allah ‘azza wa jalla sejatinya tidak mungkin menelantarkan hamba-Nya. Apalagi yang beriman kepada-Nya.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.