Mengubah Mindset tentang Waktu

Dipublikasikan oleh admin pada

Masih sulit memacu diri menjadi produktif? masih berat untuk konsisten mengerjakan hal-hal positif? atau masih berantakan dalam upaya meraih resolusi-resolusi baik kita?

 

Bisa jadi semua itu terjadi, karena kita gagal memahami waktu dengan baik.

 

Iya dari semua problem yang terjadi ketika seseorang sulit mengembangkan diri lebih baik, sejujurnya permasalahan awalnya terjadi ketika orang tersebut gagal mengelola waktunya. Dan kegagalan mengelola waktu merupakan akibat tidak memahami waktu.

 

Kenapa begitu?

 

Sebab konsistensi adalah syarat utama setiap kesuksesan. Sehebat apapun rencana yang ingin dicapai atau setinggi apapun kualitas yang ingin diraih, kesuksesan punya rumus tetap yakni akumulasi daripada kebiasaan baik yang dipupuk terus menerus dan ditumbuhkan setiap waktu.

 

Dan itu semua berhubungan dengan waktu.

 

Waktu ibarat modal yang dimiliki oleh setiap orang, yang bisa digunakan untuk mengerjakan apa saja yang ingin diraihnya. Apabila modal itu dimanfaatkan dengan maksimal, keuntungan yang diperoleh pasti maksimal. Begitu pula sebaliknya. Mereka yang mengabaikan modalnya, berleha-leha, luput mencari aktivitas yang berguna, akan menuai hasil ala kadarnya. Bahkan merugi.

 

Suatu waktu Khalifah Umar (salah satu pemimpin dalam kerajaan Islam) pernah memberikan kiasan mengenai waktu. Ketika itu, Ia mengambil sebilah pedang sembari menuturkan makna waktu pada rakyatnya, “Sungguh waktu ibarat pedang, jika tidak mampu kau kendalikan dengan baik maka Ia akan menebasmu. Namun, apabila kau mampu mengendalikannya dengan baik, engkau akan mampu menebas siapapun”

 

Kalau Khalifah Umar mengandaikan sisi ekstrem dari efek pengabaian terhadap waktu, Malcolm Gladwell dalam bukunya berjudul Outliers menuturkan keuntungan jika kita mampu mengelola waktu dengan baik. DIkatakannya, untuk menjadi ahli dalam suatu hal butuh 10,000 jam. Kalau kita rinci lebih detil lagi, 10.000 jam itu setara 417 hari. Jika kita menyisihkan 2 jam dari waktu kita sehari, maka dengan rumus tersebut kita baru akan mencapai keahlian pada tahun kesepuluh sejak kita memulai. Itu jika kita konsisten.

 

Nah, coba kita terapkan dalam kasus riil. Anggaplah kita punya cita-cita menjadi penulis hebat. Sesuai dengan rumus Gladwell di atas, ada 10.000 jam yang kita butuhkan untuk sampai pada derajat ‘ahli/hebat’. Sekarang, anda punya keleluasaan untuk mengatur jadwal anda. Hendak menghabiskan berapa jam sehari untuk menulis? Semakin banyak tentu semakin baik untuk mempersingkat capaian anda tersebut.

 

Punya mindset yang benar tentang waktu akan menolong kita untuk menjadi lebih baik. Dalam hal apapun. Utamanya karena mereka yang mampu memahami waktu dengan baik, akan mengatur waktunya dengan baik. Dan mereka yang mampu mengatur waktunya dengan baik, punya potensi yang lebih besar untuk meraih kesuksesan.

 

Sebagai penyemangat, ada sebuah catatan menarik yang ditulis oleh Mas Ahmad Rifa’I Rif’an dalam Bukunya berjudul “Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati” yang mungkin bisa mendorong kita menjadi lebih disiplin dengan waktu, potongannya begini,

 

“Waktu SMP saya pernah menulis di dinding kamar tidur saya, ‘waktu tak akan pernah kembali’ Dengan kalimat itu sebenarnya saya ingin agar waktu saya benar-benar padat amal, padat karya, padat kegiatan produktif. Bahkan kalau bisa, jangan ada satu detik pun yang sia-sia. Jangan ada satu helaan napas pun yang tidak membuat ilmu saya bertambah dan amal saya meningkat. Dan akhirnya beberapa prestasi pun tergapai”

 

Lihat cara Mas Rifa’I memahami waktunya? Dia memahami waktu dengan perspektif sederhana tetapi sangat kuat. Sebuah perspektif yang mendorong dirinya untuk tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada, karena ia memahami waktu sebagai sesuatu yang jika sudah tiba tak akan kembali lagi. Sederhana namun efektif membangun produktifitas.

 

Nah, kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak? Kita tentunya tidak mau selamanya terjebak dalam kehidupan yang tidak bermakna dengan mengabaikan waktu terus menerus. Berselimut kemalasan dan membuang kesempatan meraih kehidupan lebih baik. Ayo, segera jemput masa depanmu yang cerah, dengan mulai menata waktu. Karena menjaga waktu berarti menjaga kehidupan.

Kategori: Lamunan

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.