Muslim dalam Algoritma Media Sosial

Dipublikasikan oleh admin pada

Tidak dipungkiri kita hidup pada sebuah era yang begitu canggih. Melejitnya penggunaan teknologi informasi beberapa dasawarsa terakhir, telah membawa manusia pada spektrum hidup baru. Sekarang, manusia hidup di ekosistem digital. Kecepatan informasi, keterbukaan akses, kecanggihan komunikasi, dan keanekaragaman teknologi menjadi lingkungan baru tempat kita bertumbuh.

Sebagai orang yang lahir di akhir tahun 90’an, saya menyaksikan pergeseran itu. Meskipun tidak berani mengklaim dengan utuh tentang pergeseran momen tersebut, saya merasakan betul masa antara ketika fase sebelum dan sesudah internet tiba dalam kehidupan. Saya merasakan momen ketika sosial media muncul, sampai saat ini dimana dunia bersiap menyambut era metaverse.

Dan semuanya berlangsung demikian cepat.

Dalam proses yang begitu cepat itu juga-lah, kita memahami bahwa kehidupan manusia ikut bergeser. Efek digitalisasi merambah sampai ranah kehidupan manusia yang paling privat. Hubungan interaksi anak dan orang tua berubah. Lingkungan pendidikan di sekolah berubah. Gaya bermasyarakat tidak ketinggalan berubah juga. Dan tanpa sadar, kehidupan beragama mulai terdampak juga.

*  *  *

Tentu bukan aturan-aturan dasar yang saya maksudkan. Seluruh prinsip-prinsip dasar yang kita kenali dalam semua lingkungan, baik di level keluarga sampai dengan agama tentu saja masih eksis. Hanya saja, digitalisasi memberi dampak terhadap gaya hidup manusia. Kecepatan informasi selain membawa berkah bagi kita semua, tanpa disadari membuat sebagian besar kita tidak luput dari fenomena gegar budaya. Fenomena inilah yang ingin saya dalami terkait perubahan dalam berbagai lingkungan tadi.

Salah satu dampak yang begitu terasa adalah krisis identitas. Ini merupakan fenomena yang sangat mengkuatirkan karena berdampak pada kalangan muslim ‘milenial’ yang sedang dalam proses bertumbuh. Dalam dunia yang di-create sedemikian rupa, ada begitu banyak standar-standar budaya yang bermunculan. Dimana sayangnya, standar-standar baru tersebut banyak yang berseberangan dengan misi hidup sebagai hamba Allah.

Apakah ini artinya digitalisasi berdampak buruk bagi Islam? Tidak sepenuhnya. Dalam banyak hal, digitalisasi telah berperan besar dalam kemajuan dakwah dan semangat keilmuan Islam. Belum lagi, peradaban islami yang penuh nilai dan adil dalam timbangan hukum syariat mulai dijadikan referensi bagi beberapa negara. Hanya saja, jika kita bicara pada segmen para muslim ‘milenial’ yang berada di kelompok usia produktif, ada beberapa problem terkait dengan persoalan identitas dan jati diri.

*  *  *

Kita mulai dengan apa yang disebut dengan Cyberspace, sebuah istilah yang menggambarkan ruang baru yang dihuni dalam aktivitas jagat maya. Dalam aktivitas digital, kita harus bicara tentang sebuah dunia baru yang penuh dengan komponen baru pula. Dengan skema dunia digital yang tidak lagi mengenal batas (borderless), telah tercipta kebebasan baru dalam mengekspresikan diri. Cyberspace memberikan area seluas mungkin bagi setiap orang untuk beraktualisasi. Mencakup seluruh kegiatan kita sebagai manusia yakni berkomunikasi, berinteraksi, mencari informasi, sampai dengan membangun paradigma. Dengan kata lain, cyberspace terbit sebagai ruang publik terbaru, wahana manusia dalam menjalankan aktivitas kemanusiaannya.

Perkembangan ini tentu saja memengaruhi cara bertumbuh kita sebagai manusia. Persinggungan manusia dalam sebuah ruang publik, tentunya tidak sekedar obrolan basa-basi. Disana pastinya akan terjadi persilangan gagasan, pertentangan nilai, konsumsi budaya, dan berbagai hal yang menyangkut elemen dasar lainnya. Tanpa sadar kita menyimak bagaimana orang lain hidup. Dengan segala aspek nilai yang melekat dan tertanam padanya. Pada suatu titik tertentu, kita mungkin bahkan akan tertumbuk pada sebuah keinginan menjadi ‘orang’ tersebut. Entah motifnya karena kesuksesan, kebijaksanaan, kearifan, atau nilai-nilai lain yang menjadi kekaguman. Kimia yang bekerja di cyberspace membuat kita begitu mudah terpukau dengan visualisasi.

Sekilas percampuran demikian bisa menjadi nilai tambah yang menarik. Sebab, kualitas personal kita meningkat seiring dengan luasnya cakrawala. Tetapi di saat yang bersamaan, itu menghasilkan persoalan.

*  *  *

Sebab ternyata standar kehidupan yang ada dalam dunia maya itu bebas nilai. Tanpa adanya kontrol nilai yang mumpuni, kita akan keliru melihat yang baik sebagai baik yang riil. Sebagai perumpamaan, saat ini standar yang diinginkan banyak orang adalah menjadi viral. Akhirnya banyak orang berupaya men-setting dirinya atau kontennya agar mampu meraih status ‘viral’ tersebut. Di sini etiket kepantasan maupun standar edukasi mulai terpinggirkan, banyak orang rela memproduksi konten yang absurd demi mendapatkan atensi keviralan. Begitulah yang terjadi ketika ada begitu banyak konten seperti flexing (pamer kekayaan), hoax, ekstrem sensual, serta sajian konten absurd lainnya. Orientasinya menjadi singkat, atensi netizen.

Kondisi ini terjadi menurut sebagian pihak karena keringnya nilai yang menjadi prinsip. Selain karena rendahnya literasi digital, tidak banyak dari user cyberspace merupakan  pengguna yang sadar akan kepentingan dan tujuan dirinya. Kebanyakan dari kelompok ini, nyemplung dalam dunia maya sebagai pelancong digital semata. Dengan kata lain, tidak ada identitas diri. Akibatnya pihak-pihak ini menjadi kelompok yang sangat rentan, dikendalikan oleh algoritma media sosial.

Mirisnya, situasi ini menimpa pada kelompok masyarakat yang sebagian besar notabene merupakan muslim. Sebuah identitas yang seharusnya memiliki kualitas personal yang kokoh. Hal ini jika kita melihat pokok misi pengutusan Rasulullah, yakni penyempurnaan akhlak (karakter). Artinya jika kita memahami bahwa seluruh hikmah pensyariatan, punya tujuan membentuk seorang muslim sebagai pribadi berkarakter dan taat pada Tuhan-Nya, akhirnya menjadi aneh, mendapati bahwa yang terserang krisis nilai dan identitas adalah justru seorang muslim.

Seorang muslim sejak awal diberikan misi hidup yang gamblang. Yakni melaksanakan ibadah kepada Allah, sebagaimana apa yang Allah firmankan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 54. Artinya bisa dibayangkan bahwa seorang muslim bertumbuh dengan bekal tujuan hidup yang sangat terang. Berbekal tujuan itu, seorang muslim melaksanakan kehidupannya, beraktivitas, membangun peradaban, dan endingnya mencari ridha Tuhan-Nya.

Dalam hal ini, ibadah tidak saja dimaknai secara sempit. Islam sebagai ajaran, membungkus ibadah dalam konsep yang paling komplit. Mulai dari komitmen keimanan, pembentukan cara berpikir, aktivitas kehidupan sehari-hari, ritual penyembahan, sampai dengan relasi antarmanusia. Semuanya dibungkus dengan spirit peribadahan. Keseluruhan ciri itulah yang menjadikan seorang muslim sebagai muslim. Pribadi yang padat dengan nilai keimanan.

Berbekal itu, seorang muslim seharusnya muncul dengan produktifitas yang menakjubkan. Bahkan dalam beberapa kasus, usia tidak lagi jadi tolak ukur. Bisa diingat, Usamah bin Zaid mendapatkan gelar panglima perang di usianya yang belum sampai 20 Tahun. Begitu pula, Sultan Muhammad Al-Fatih mengomandoi pembebasan Konstantinopel di usia 21 Tahun. Cerita ini menunjukkan karakter serta identitas muslim sejatinya. Begitulah Islam dalam menghasilkan pribadi Rabbani, mereka yang lahir ini akan mempunyai karakter keimanan dan gemilang dalam partisipasi peradaban.

Rangkaian deskripsi di atas menjadi komparasi yang mengejutkan dengan kondisi muslim kekinian. Tidak bisa dipungkiri muslim di era milenial mengalami persoalan paling mendasar yakni tentang jati diri. Banyak dari muslim ‘milenial’ yang cenderung bergerak tanpa pengarahan hidup. Mencicipi begitu banyak sajian ‘nilai’, yang membuat tampilan dirinya tidak mencerminkan identitas muslim yang seharusnya. Akhirnya mereka yang seharusnya bertumbuh dengan misi mewarnai peradaban, tergeletak tak berdaya ‘diwarnai’ oleh pengaruh negatif.

Sekali lagi, tidak ada gunanya mencecar peradaban. Digitalisasi suka atau tidak merupakan keniscayaan peradaban yang harus dihadapi oleh setiap orang. Apalgi bagi seorang muslim, tentunya seluruh kondisi zaman merupakan area ibadah yang selalu harus disikapi dengan dinamis. Begitu kita belajar dari para pendahulu, ketika Umar bin Khattab ra menaklukkan dinasti adikuasa Romawi dan Persia. Seperti pula Sultan Shalahuddin al-Ayyubi yang membawa pasukan muslim meruntuhkan dominasi pasukan salib. Setiap tokoh punya tantangan zamannya masing-masing. Akan tetapi kegemilangan identitas telah membawa mereka menaklukkan zaman.

Maka, sepatutnya kita yang harus banyak mengintrospeksi diri. Dalam sebuah era yang tantangannya adalah kecanggihan, tentunya setiap muslim wajib untuk mampu menjadi canggih sekaligus beriman. Muslim yang ideal akan selalu tampil menjadi rujukan. Kemajuan zaman adalah sunnatullah yang selalu harus diterima secara positif. Hanya saja, kembali ke pertanyaan semula, apakah kita mampu untuk mewarnai ataukah harus pasrah menjadi yang terwarnai?

(Dimuat di Rahma.id pada tanggal 19 Februari 2022)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.