Muslim dan Waktu yang Berceceran

Dipublikasikan oleh admin pada

Di antara problem mendasar yang kita hadapi saat ini berhubungan dengan efektivitas pengelolaan waktu. Sadar atau tidak, begitu banyak waktu kita habis dengan sia-sia. Padahal waktu adalah modal utama hidup kita. Dan tentang cara kita memperlakukan modal ini, rasanya seperti seorang yang bergerak menuju kebangkrutan.

Selain itu, kita adalah muslim. Sesosok identitas yang seharusnya terampil dalam memanfaatkan waktu. Dalam konsep Islam, waktu diajarkan sebagai pokoknya kehidupan. Masih ingat apa perandaian Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu mengenai waktu? Ya, pedang. Andai bukan kita yang menebas waktu, kita-lah yang akan ditebasnya. Sampai begitu Umar mengingatkan kita.

Karena urgensi waktu, sebetulnya adalah urgensi hidup itu sendiri. Momen yang tersedia bagi kita untuk melakukan sesuatu, hanyalah sebatas waktu itu masih tersedia. Hasan Al-Bashri menasihatkan kita tentang konteks ini, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu”.

Kepemilikan hidup kita, sejatinya tentang bilangan-bilangan waktu yang tersedia.

Hanya saja esensi tersebut tampaknya tidak terlihat di sekeliling kita. Kebanyakan dari kita lebih sering ‘menikmati’ waktu, daripada ‘memanfaatkan’ waktu. Kedua kata yang rasanya punya arah dan pemaknaan yang cukup lebar.

Mereka yang hanya ‘menikmati’ waktu, cenderung tidak punya intensi apa-apa dalam penggunaan waktunya. Dalam hal ini, tidak ada makna khusus terhadap waktu, selain sebagai penunjuk atau keterangan kondisi. Karena itu konteksnya menjadi sangat murah, pihak ini dengan mudah mem-barter waktu dengan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi diri mereka. Tanpa rasa kerugian apapun.

Sebaliknya mereka yang mampu ‘memanfaatkan’ waktu, punya mindset berbeda. Mereka ini adalah kelompok yang serius memperjuangkan momen dalam setiap waktu mereka. Hal ini karena, waktu mereka pahami sebagai satu-satunya kesempatan untuk berbuat atau berkarya. Pemahaman inilah yang akhirnya mendorong perubahan kualitas dalam penggunaan waktu. Terbatasnya kesempatan yang tersedia, mengharuskan adanya keefektifan dalam pemanfaatan waktu.

* * *

Lalu, apa yang sebetulnya membuat kita boros waktu?

Saat kita berkaca dengan diri sendiri, mungkin problem ini pun melekat dengan diri kita. Ya, kita bahkan tidak bisa mengelak sebagai pihak yang mengonsumsi waktu dengan sia-sia. Cara kita mengelola rutinitas, jika dihitung-hitung ternyata miskin produktivitas.

Mengapa bisa demikian? Kalau kita cermati, bisa jadi penyebabnya adalah tidak adanya visi hidup yang jelas. Kenyataannya, tanpa arah hidup yang jelas, kita kelimpungan hendak berbuat apa. Tidak adanya sesuatu yang ingin dicapai akhirnya membuat waktu kita habis dengan kesia-siaan.

Ditambah sifat dasar manusia itu memang menyenangi yang santai-santai. Sebisa mungkin, waktu luang yang ada dimanfaatkan untuk healing. Masalahnya, proporsi healing kita ternyata telah mengambil sebagian besar kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Kalau mau jujur, kehidupan kita yang begini-begini saja adalah buah dari kelalaian ini. Kemalasan, sifat santai, menggampangkan waktu, rebahan, dan aneka istilah serupa telah merenggut kesempatan kita mendapatkan kualitas hidup yang maksimal.

Sebab pola kesuksesan tidak berjalan dengan cara seperti itu. Sunnatullah yang bekerja di alam ini mensyaratkan adanya pemenuhan kerja untuk meraih sesuatu yang diimpikan. Apakah seorang Lionel Messi, tetiba saja dikukuhkan menjadi pesepakbola terbaik dunia? Tidak. Dia bahkan telah menghabiskan ribuan jamnya untuk terus mengasah kemampuan yang dia miliki. Konsistensi, persistensi, ketekunan, dan kerja keras adalah bagian besar yang membawanya pada kesuksesan. Dan itu semua, masuk dalam bahasan cara penggunaan waktu yang efektif.

Sayangnya kita adalah prototype yang terbalik daripada itu semua. Alih-alih punya rutinitas waktu yang efektif, mindset kita tentang waktu pun masih bermasalah. Kita sukar untuk mau kerja keras, kita juga sulit untuk disiplin, kita juga membenci untuk tekun, dan kita juga berat untuk konsisten.

Dan masalahnya, inilah pula kualitas penggunaan waktu yang terdapat pada sebagian besar kaum muslimin di era sekarang.

* * *

Dalam sebuah hadits yang masyhur, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan karakteristik muslim yang punya kualitas baik dalam keislamannya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

“Termasuk baik Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya”

Kedudukan hadits ini vital. Para ulama menyatakan bahwa hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis penting yang memuat seluruh ajaran Islam. Tapi bukan disini pembahasan yang ideal terkait dengan jabaran hadits-haditsnya. Kita hanya ingin memotret konteks yang dibawakan oleh Rasulullah, bahwa memang seorang muslim yang ideal itu membentuk dirinya dengan rutinitas berkualitas.

Kita sebelumnya menduga bahwa salah satu penyebab terbesar dari tercecernya waktu adalah ketiadaan visi hidup. Tidak adanya tujuan yang hendak dicapai, telah membuat kesempatan yang ada habis dalam kesia-siaan. Namun, situasi ini seharusnya tidak menimpa muslim. Karena sebagaimana kita tahu, bahwa Islam mendudukkan konsepnya dengan sebuah visi besar yakni Ibadah.

Artinya, seorang muslim harusnya terlepas dari fenomena ini. Seorang muslim yang paham visinya, tentu sudah merancang dan menjalankan hidupnya untuk sebuah sajian peribadahan terbaik kepada Rabb-Nya. Sebagaimana sudah kita pahami bahwa, konteks ibadah itu mencakup seluruh aktivitas penghambaan manusia yang berkenaan dengan pemenuhan perintah Allah dan pengingkaran larangan-Nya. Sehingga ibadah bukan hanya sebatas shalat, puasa, atau zakat, tetapi konteks yang jauh lebih luas yakni tentang bisnis, pekerjaan, pernikahan, dan konteks sosial lain.

Dalam konteks tersebut, seharusnya seorang muslim tampil sebagai figur yang padat amal. Setiap muslim bergerak dalam visi ibadahnya masing-masing, berkontribusi dalam peran masing-masing, serta menyumbang manfaat sesuai kapasitas masing-masing. Waktu yang ada dalam genggaman mereka sudah sewajarnya habis dalam manfaat yang maksimal.

Hanya saja idealitas itu belum tampak di sekitar kita. Fakta bahwa kebanyakan muslim lalai dengan waktunya, menggambarkan ada jarak yang cukup jauh antara konsep-konsep Islam dengan kaum muslimin. Alih-alih tampil sebagai sosok yang memberi dampak bagi peradaban, sebagian besar kaum muslim masih tertatih-tatih dalam mengurus dirinya sendiri. Waktu yang ada tercecer akibat rentannya pondasi keislaman.

Begitulah faktanya dan sederhana Rasulullah menggambarkan ini semua. Karena, balik-balik lagi semuanya terletak pada pemahaman yang benar. Tercecernya waktu dalam hal-hal yang tidak berguna, pertanda bahwa kualitas (pemahaman) Islam kita yang belum baik.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah catatan menarik yang ditulis oleh Mas Ahmad Rifa’I Rif’an dalam bukunya berjudul “Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati”, dimana perkataan ini mungkin bisa menjadi refleksi yang baik terhadap  cara kita mengelola waktu. Karena bisa jadi sampai sejauh ini pun, kita sulit memahami bagaimana waktu punya peran penting terhadap kehidupan kita.

“Waktu SMP saya pernah menulis di dinding kamar tidur saya, ‘waktu tak akan pernah kembali’ Dengan kalimat itu sebenarnya saya ingin agar waktu saya benar-benar padat amal, padat karya, padat kegiatan produktif. Bahkan kalau bisa, jangan ada satu detik pun yang sia-sia. Jangan ada satu helaan napas pun yang tidak membuat ilmu saya bertambah dan amal saya meningkat. Dan akhirnya beberapa prestasi pun tergapai”

Jadi, mau sampai kapan kita rela waktu kita terus berceceran tanpa makna?


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.